
Nganjuk | Updatenewstv- Proyek pelebaran jalan provinsi yang tengah berlangsung di Kabupaten Nganjuk menuai perhatian serius dari publik, terutama dari kalangan aktivis lingkungan. Sejumlah saluran drainase di sepanjang ruas Jalan Raya Kediri-Nganjuk, tepatnya di wilayah Kecamatan Loceret, dilaporkan tertutup aspal dan material konstruksi akibat proyek tersebut.
Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap sistem tata air setempat. Aktivis Lingkungan Nganjuk, Hamid Effendi, mengungkapkan bahwa penutupan drainase tersebut bisa menimbulkan dampak ekologis yang serius, terutama saat musim hujan.
Kami menduga kuat bahwa penutupan drainase ini tidak sesuai dengan kaidah teknik sipil dan prinsip lingkungan hidup. Bisa memicu banjir saat musim hujan dan mengganggu aliran air karena tertutup material pelebaran jalan,” tegas Hamid saat ditemui pada Rabu (11/6/2025).
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah saluran air di sisi utara jalan kini tertutup permanen oleh aspal, padahal sebelumnya masih terbuka dan aktif menyalurkan air hujan. Ironisnya, drainase ini baru saja dilengkapi dengan box culvert beberapa bulan sebelumnya.
Proyek pelebaran jalan ini sendiri merupakan bagian dari program strategis Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dimulai sejak awal Mei 2025, bertujuan untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah dan mengurangi kemacetan di jalur utama. Namun, penerapan teknis di lapangan dinilai belum memperhatikan aspek lingkungan secara menyeluruh.
Kelompok pemerhati tata kota dan lingkungan mendesak adanya keterbukaan dari pihak pelaksana proyek dan Pemerintah Daerah Nganjuk. Mereka meminta agar dilakukan evaluasi terhadap desain teknis proyek, serta penyediaan solusi sementara untuk aliran air yang terdampak.
Kami tidak menolak pembangunan, tapi harus ada mitigasi risiko. Saluran air adalah bagian penting dari infrastruktur,” tambah Hamid.
(Ricko)