Kirab Gunungan Ketupat Kepuhbener, Tradisi Lebaran Ketupat yang Sarat Makna dan Kebersamaan

Nganjuk | Updatenewstv- Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai Dusun Kepuhbener, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (28/3/2026) pagi. Ratusan warga setempat menggelar kirab gunungan ketupat dalam rangka tradisi kupatan atau lebaran ketupat yang jatuh sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri.

Sejak pagi buta, warga dari berbagai kalangan mulai berkumpul. Mulai dari sesepuh dusun hingga anak-anak turut ambil bagian dalam kirab yang menjadi agenda tahunan tersebut. Nuansa kental budaya Jawa tampak dari busana yang dikenakan peserta. Kaum pria tampil dengan lurik dan blangkon maupun peci, sementara para wanita anggun mengenakan kebaya dipadukan jilbab.

Kirab dimulai sekitar pukul 06.00 WIB dari salah satu rumah warga. Empat gunungan ketupat yang tersusun dari ratusan ketupat matang diarak secara gotong royong. Di belakangnya, iring-iringan warga membawa pelengkap sayur ketupat dalam keranjang bambu yang dijinjing maupun digendong menggunakan selendang jarik.

Arak-arakan berjalan menyusuri jalan dusun sejauh kurang lebih 350 meter menuju Masjid Al Huda, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan warga setempat. Sepanjang perjalanan, suasana berlangsung meriah dan penuh kekompakan.

Sesampainya di halaman masjid, warga langsung mengikuti doa bersama. Mereka meyakini, ketupat yang telah didoakan akan membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya.

Usai doa, suasana berubah menjadi riuh. Warga dengan antusias berebut gunungan ketupat yang telah disusun. Ketupat dan rangkaian janur dicabut lalu dibawa pulang untuk disantap bersama keluarga.

Salah satu peserta, Romdiyah (40), mengaku sengaja datang dari Desa Demangan untuk mengikuti tradisi tersebut. Ia berharap ketupat yang dibawanya pulang bisa membawa kebaikan bagi keluarganya.

Saya senang bisa ikut lagi. Semoga ketupat ini membawa berkah untuk keluarga di rumah,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Zuhal Ahmadi, menjelaskan bahwa kirab ketupat bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana mempererat hubungan antarwarga. Tradisi ini, kata dia, telah berlangsung secara rutin selama tujuh tahun.

Ini bagian dari lebaran ketupat, yang dilaksanakan setelah puasa Syawal. Selain menjaga tradisi, ini juga untuk memperkuat silaturahmi,” jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan busana adat Jawa dalam kirab memiliki nilai sejarah, sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus napak tilas penyebaran Islam oleh Wali Songo yang menggabungkan dakwah dengan kearifan lokal.

Menurutnya, keberadaan Masjid Al Huda sebagai titik akhir kirab juga bukan tanpa alasan. Masjid tersebut diyakini sebagai salah satu tempat awal berkembangnya ajaran Islam di wilayah tersebut dan dihormati sebagai situs bersejarah oleh warga.

Tradisi kupatan di Dusun Kepuhbener pun menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan nilai keagamaan dapat berjalan beriringan, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

 

(Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *