
Nganjuk | Updatenewstv- Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tradisi ziarah kubur atau nyekar kembali menghidupkan denyut ekonomi warga. Di kawasan Terminal Lama, Kabupaten Nganjuk, puluhan pedagang bunga tabur mulai diserbu pembeli sejak pagi hingga petang.
Sepanjang tepi Jalan Diponegoro, lapak-lapak sederhana berjajar rapi. Aroma mawar dan kenanga bercampur semilir angin pagi menemani aktivitas warga yang bersiap berziarah ke Makam keluarga.
Momentum ini ladang menjadi rezeki musiman bagi masyarakat sekitar. Salah satunya Sutirah, warga Kelurahan Werungotok, yang untuk sementara meninggalkan profesi sehari-hari sebagai penjual minuman demi berjualan bunga tabur.
Ia mengaku dalam satu hari mampu menjual lebih dari 100 kantong plastik bunga dengan harga Rp5.000 per bungkus. Saat puncak ziarah, sekitar tiga hari sebelum puasa, penghasilannya bisa melonjak drastis.

Kalau ramai bisa dua sampai tiga juta rupiah sehari. Biasanya habis tiga sampai empat kilogram bunga,” ujarnya.
Namun keuntungan besar tidak didapat tanpa tantangan. Tahun ini para pedagang harus menghadapi kenaikan harga bahan baku. Harga mawar di tingkat kulakan mencapai Rp125 ribu per kilogram, naik tajam dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar Rp90 ribu.
Selain itu, sebagian pedagang juga merasakan jumlah peziarah sedikit berkurang dibandingkan Ramadhan sebelumnya, meski aktivitas jual beli tetap ramai.
Para pedagang memikirkan arus pembeli akan terus meningkat hingga malam pertama Ramadhan tiba.
Sementara itu, Hendrik, salah satu pembeli, mengaku hampir setiap tahun membeli bunga tabur di kawasan Terminal Lama.
Di sini bunganya bagus dan harganya terjangkau, jadi selalu ke sini sebelum ziarah,” katanya.

Tradisi nyekar yang terus dijaga masyarakat tak hanya menjadi kenangan akan para leluhur, namun juga menghidupkan roda ekonomi warga kecil menjelang bulan penuh berkah.
(Tim)