
Nganjuk | Updatenewstv- Kerusakan jalan di Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk, kian mengkhawatirkan. Badan jalan yang berada di sisi Sungai Widas dilaporkan ambles dan longsor, bahkan terus melebar hingga mendekati area permukiman warga.

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, turun langsung ke lokasi pada Jumat sore (10/4/2026) untuk memastikan kondisi terkini sekaligus melihat dampak yang ditimbulkan. Ia menilai, kerusakan tersebut bukan sekadar longsor biasa, melainkan diduga akibat pergerakan tanah yang masih aktif.

Indikasinya ini tanah gerak. Kalau hanya diuruk atau dipasang bronjong tidak akan cukup. Harus ada kajian ilmiah supaya penanganannya tepat,” ujarnya di lokasi.
Dalam peninjauan itu, Bupati yang akrab disapa Kang Marhaen didampingi Kepala Pelaksana BPBD Sutomo bersama sejumlah pejabat terkait. Dari hasil pemantauan, pergerakan tanah sudah terjadi sejak awal April dan terus memburuk, terutama saat intensitas hujan meningkat.

Upaya darurat yang sempat dilakukan, seperti pengurukan material hingga ratusan rit, belum mampu menahan laju kerusakan. Struktur tanah yang labil membuat penanganan sementara tersebut tidak bertahan lama.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Nganjuk berencana menggandeng tenaga ahli, termasuk dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, guna melakukan kajian teknis secara mendalam. Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan solusi permanen yang sesuai dengan kondisi geologi setempat.

Selain menggandeng akademisi, pemerintah daerah juga akan mengajukan dukungan ke pemerintah pusat agar penanganan dapat dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi teknis maupun pendanaan.
Penanganan tidak bisa setengah-setengah. Harus dihitung matang, mulai dari metode hingga kebutuhan anggarannya,” tegasnya.
Pemkab Nganjuk sendiri menargetkan penanganan bisa direalisasikan tahun ini dengan memanfaatkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT), mengingat kejadian ini masuk kategori bencana alam.
Sementara itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di sekitar lokasi longsor dibatasi, terutama bagi anak-anak, karena kondisi tanah masih berpotensi bergerak sewaktu-waktu.
Data sementara menunjukkan, panjang jalan yang terdampak mencapai sekitar 50 meter. Kondisi paling mengkhawatirkan, jarak antara bibir longsoran dengan rumah warga kini tinggal sekitar satu meter. Sedikitnya sembilan rumah dengan total sekitar 30 jiwa berada dalam ancaman langsung, padahal jalan tersebut merupakan akses penting penghubung antar desa.
(Tim)