
Nganjuk | Updatenewstv- Lonjakan harga kedelai yang dipicu situasi global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Salah satunya dialami perajin tahu rumahan di Kabupaten Nganjuk yang kini harus memutar otak agar usaha tetap berjalan.
Sumiatun (70), pemilik industri tahu di Lingkungan Mantup, Kelurahan Kramat, mengaku harga kedelai mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya bahan baku utama itu berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram, kini sudah menyentuh angka Rp11.000 per kilogram.
Naiknya sudah terasa sejak awal Ramadan,” ujar Sumiatun, Selasa (7/4/2026).
Kondisi tersebut membuatnya berada di posisi sulit. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat, namun di sisi lain ia belum berani menaikkan harga jual karena khawatir mendapat penolakan dari para pedagang.
Saat ini, biaya produksi satu kali masak masih dipatok sekitar Rp260 ribu. Sumiatun mengaku sempat mempertimbangkan kenaikan menjadi Rp270 ribu, tetapi rencana itu belum direalisasikan.
Masih ditahan dulu, takut nanti pedagang keberatan,” ungkapnya.
Dalam sekali produksi, dibutuhkan sekitar 18 kilogram kedelai yang menghasilkan kurang lebih 700 potong tahu. Dalam sehari, pabriknya mampu mengolah hingga 30 kali produksi, termasuk memenuhi pesanan rutin dari dapur MBG sebanyak 4 hingga 6 kali masakan per hari.

Meski biaya membengkak, Sumiatun memilih tidak mengurangi ukuran tahu demi menjaga kualitas. Namun, keputusan tersebut berdampak langsung pada menipisnya margin keuntungan.
Keuntungannya sekarang sangat tipis, tapi kualitas tetap dijaga,” katanya.
Ia juga menyebut para perajin tahu di sejumlah wilayah lain di Nganjuk masih bersikap serupa. Mereka kompak belum menaikkan harga dan cenderung menunggu langkah dari pelaku usaha lain sebagai acuan.
Distribusi tahu produksinya sendiri masih berfokus di wilayah lokal, dengan sistem penjualan melalui pengepul yang berkeliling. Saat ini, usaha yang telah dirintis sejak 1988 itu mempekerjakan 11 orang karyawan.
Di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, mulai dari bahan baku, upah tenaga kerja, hingga operasional harian, Sumiatun berharap harga kedelai segera stabil. Namun jika kenaikan terus berlanjut, ia tak menutup kemungkinan akan menyesuaikan harga dalam waktu dekat.
Kalau terus naik, mungkin mau tidak mau harga juga akan ikut naik,” pungkasnya.
(Tim)