Menu

Mode Gelap
Momentum May Day, PKB Nganjuk Launching Hari Fraksi HALO PKB NGANJUK Inilah Pernyataan Sikap IJTI Dalam Sambut Hari Buruh Sedunia KONI Kota Kediri Gelar FGD Sport Tourism Dalam Wacana Tuan Rumah Porprov Jatim 2029 Bupati Marhaen Tegaskan Bakal Kawal Hak Buruh Saat Peringatan May Day di Makam Pahlawan Marsinah Peringati Hari Jadi Nganjuk ke-1089, Turnamen Bulutangkis Piala Ketua DPRD Jadi Ajang Gali Potensi Atlet Muda Peziarah Padati Makam Marsinah di Hari Buruh, Serikat Buruh Gaungkan Semangat Perjuangan

Lainnya

Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tahu di Nganjuk Bertahan di Tengah Tekanan Biaya

badge-check


					Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tahu di Nganjuk Bertahan di Tengah Tekanan Biaya Perbesar

Nganjuk | Updatenewstv- Lonjakan harga kedelai yang dipicu situasi global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Salah satunya dialami perajin tahu rumahan di Kabupaten Nganjuk yang kini harus memutar otak agar usaha tetap berjalan.

Sumiatun (70), pemilik industri tahu di Lingkungan Mantup, Kelurahan Kramat, mengaku harga kedelai mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya bahan baku utama itu berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram, kini sudah menyentuh angka Rp11.000 per kilogram.

Naiknya sudah terasa sejak awal Ramadan,” ujar Sumiatun, Selasa (7/4/2026).

Kondisi tersebut membuatnya berada di posisi sulit. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat, namun di sisi lain ia belum berani menaikkan harga jual karena khawatir mendapat penolakan dari para pedagang.

Saat ini, biaya produksi satu kali masak masih dipatok sekitar Rp260 ribu. Sumiatun mengaku sempat mempertimbangkan kenaikan menjadi Rp270 ribu, tetapi rencana itu belum direalisasikan.

Masih ditahan dulu, takut nanti pedagang keberatan,” ungkapnya.

Dalam sekali produksi, dibutuhkan sekitar 18 kilogram kedelai yang menghasilkan kurang lebih 700 potong tahu. Dalam sehari, pabriknya mampu mengolah hingga 30 kali produksi, termasuk memenuhi pesanan rutin dari dapur MBG sebanyak 4 hingga 6 kali masakan per hari.

Meski biaya membengkak, Sumiatun memilih tidak mengurangi ukuran tahu demi menjaga kualitas. Namun, keputusan tersebut berdampak langsung pada menipisnya margin keuntungan.

Keuntungannya sekarang sangat tipis, tapi kualitas tetap dijaga,” katanya.

Ia juga menyebut para perajin tahu di sejumlah wilayah lain di Nganjuk masih bersikap serupa. Mereka kompak belum menaikkan harga dan cenderung menunggu langkah dari pelaku usaha lain sebagai acuan.

Distribusi tahu produksinya sendiri masih berfokus di wilayah lokal, dengan sistem penjualan melalui pengepul yang berkeliling. Saat ini, usaha yang telah dirintis sejak 1988 itu mempekerjakan 11 orang karyawan.

Di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, mulai dari bahan baku, upah tenaga kerja, hingga operasional harian, Sumiatun berharap harga kedelai segera stabil. Namun jika kenaikan terus berlanjut, ia tak menutup kemungkinan akan menyesuaikan harga dalam waktu dekat.

Kalau terus naik, mungkin mau tidak mau harga juga akan ikut naik,” pungkasnya.

 

(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KAI Daop 7 Madiun Sayangkan Insiden Truk Mogok di Perlintasan Hingga Tertemper KA Dhoho

29 April 2026 - 07:56 WIB

Membanggakan ! Bupati Marhaen Djumadi Terima Penghargaan Tingkat Nasional, pada Peringatan Hari Otonomi Daerah ke XXX Tahun 2026 di Kementerian Dalam Negeri

27 April 2026 - 04:58 WIB

Mbak Wali Tindak Cepat Kasus Dugaan Keracunan MBG, 73 Siswa Terdampak Kini Membaik

25 April 2026 - 04:03 WIB

BULOG Kediri Sewa Gudang Untuk Tampung Lonjakan Stok, Sedangkan Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton

24 April 2026 - 12:15 WIB

KAI Daop 7 Madiun Rutin Lakukan Pengecekan Sarana dan Prasarana melalui Lori Dresin untuk Jaga Keandalan Perjalanan KA

24 April 2026 - 12:01 WIB

Trending di Lainnya