NGANJUK, UPDATENESWTV–Perayaan tradisi Boyong Notoprojo serta Sedekah Bumi di Kabupaten Nganjuk dicoreng oleh ulah komplotan pencopet.
Modus para pelaku copet dilakukan dengan cara membaur bersama ribuan warga yang berebut gunungan hasil bumi di perayaan boyong dan sedekah bumi.

Mereka berpura-pura ikut membaur dalam kerumunan rebutan gunungan bawang yang menjadi salah satu daya tarik acara tahunan tersebut.
Saat warga asik fokus berebut hasil bumi yang dipercaya membawa berkah, para pelaku justru melancarkan aksinya dengan memanfaatkan situasi berdesakan warga masyarakat.
Naas aksi salah satu pelaku ketahuan oleh warga yang akhirnya diamankan oleh petugas kepolisian, dan di amankan ke polsekta kota nganjuk.
Sejumlah pengunjung dilaporkan kehilangan telepon genggam dan dompet serta barang berharga lainnya tradisi boyong.
Menurut keterangan Nur azizah koban aksi copet warga bogo nganjuk, ia saat ikut rebutan gunungan merasa curiga HP yang ada di tas nya tiba tiba hilang dan tasnya terbuka.
“Pada saat saya ikut rebutan gunungan, tas saya terbuka dan HP saya hilang dan suami saya temukan di ibu pelaku yang ikut di kerumunan. “Tandas azizah.

Suharti yang juga salah satu korban copet yang kehilangan dompet dan HP juga menambahkan, tasnya tiba tiba terbuka dan merasa ada yang mengambil dompetnya dan menangkap tangan pelaku (s ) warga desa keraton pasuruan dan di bawa ke polsek kota nganjuk.
” Pada saat saya ikut rebutan gunungan saya merasa ada yang mengambil barang saya di tas dan saya reflek pegang tangan pelaku dan saya bersama petugas keamanan saya bawa ke polsekta. “Tandas suharti.
Beruntung pelaku dapat diamankan petugas di polsekta kota nganjuk sehingga terhindar dari amuk masa, serta di duga pelaku teroganisir tidak hanya satu namun berkelompok.
Masyarakat berharap aparat keamanan dapat mengusut tuntas aksi para pelaku sehingga kegiatan budaya yang sakral dan menjadi kebanggaan warga Nganjuk tersebut dapat berlangsung aman dan nyaman pada tahun-tahun mendatang.
Diketahui Tradisi Boyong Notoprojo sendiri merupakan peringatan perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk yang setiap tahunnya dirangkai dengan kirab budaya dan sedekah bumi berupa gunungan hasil pertanian. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus penghormatan terhadap sejarah Kabupaten Nganjuk.
(Tim)














