Bangkalan-UpdateNewstv- Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 resmi ditutup di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, pada Selasa (23/6/2026) pukul 14.00 WIB. Agenda strategis ini berhasil dirampungkan sebagai rangkaian permusyawaratan penting menuju Muktamar Ke-35 NU.
Acara penutupan yang khidmat ini dihadiri sekitar 1.500 tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia. Sejak siang, area luar venue telah dipadati oleh puluhan anggota Banser dan kader Fatayat NU dari berbagai wilayah Nusantara. Rangkaian penutupan dimulai pukul 13.30 WIB.
Sejumlah tokoh nasional mendampingi Presiden, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Agus Subianto, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Dari jajaran PBNU, hadir Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam KH Anwar Iskandar, serta tokoh-tokoh sepuh seperti Kiai Said Aqil Siradj.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang tidak terhingga atas kehadiran Presiden Prabowo Subianto.
“Kehadiran Bapak Presiden melengkapi kebahagiaan kami setelah berhasil menyelesaikan tugas pelaksanaan Munas dan Konbes yang merupakan rangkaian permusyawaratan menjelang Muktamar yang akan dilaksanakan pada 1–5 Agustus mendatang di tempat yang akan segera kami sepakati bersama,” ujar Gus Yahya.
Di hadapan Presiden dan ribuan hadirin, Gus Yahya menegaskan loyalitas total warga NU terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menilai antusiasme warga NU di sekitar lokasi menjadi bukti kecintaan yang mendalam kepada pemimpin negara.
“Bersama Bapak saat ini hadir para kiai, para pemimpin NU, dan kader-kader NU. Di luar sana, Presiden juga telah bertemu dengan warga NU yang menunjukkan kecintaan kepada kepemimpinan kita. Kami semua adalah rakyat yang setia kepada negara,” imbuhnya. Beliau menambahkan bahwa Nahdliyin adalah rakyat yang siap berjuang dan rela berkorban demi bangsa, serta tidak pernah kehilangan optimisme.
Lebih lanjut, Gus Yahya juga memohon doa restu agar NU terus konsisten dalam mengawal NKRI.
“Mohon doa restu semoga Nahdlatul Ulama akan terus senantiasa hadir dan tegak dalam menjaga, melestarikan, serta memelihara bangsa dan negara yang kita cintai ini,” tuturnya.
Menutup pidatonya, Gus Yahya membakar semangat para kader dengan mengutip ayat suci Al-Qur’an untuk menghadapi tantangan zaman ke depan. Beliau menekankan bahwa khidmah yang istiqamah akan selalu membuahkan hasil terbaik.
“Dalam perjuangan fi sabilillah demi kemaslahatan agama, bangsa, dan negara, maka di hadapan tantangan apa pun dan di hadapan ancaman apa pun, janji Allah tidak akan meleset. Bahwa pertolongan Allah akan datang dan kemenangan sangat dekat menjelang,” pungkasnya.



















