Ketika NU Memasuki Abad Kedua, Mencari Nakhoda yang Mampu Membaca Masa Depan

Ada organisasi yang besar karena jumlah pengikutnya. Ada pula yang besar karena sejarahnya. Namun sangat sedikit organisasi yang besar karena keduanya sekaligus. “Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satunya”.

Memasuki usia satu abad lebih, NU tidak lagi hanya berbicara tentang mempertahankan tradisi. Tantangan yang dihadapi kini jauh lebih besar, bagaimana membawa warisan pesantren memasuki era kecerdasan buatan, ekonomi digital, geopolitik global, dan perubahan peradaban dunia yang bergerak sangat cepat.

Gus Hery H. Azumi mengungkapkan, pertama-tama saya ingin sampaikan bahwa kedatangan kami ke sini sebenarnya adalah untuk memberikan hormat atas telaksananya
mengenai alim ulama dan konferensi besar Nahdlatul Ulama yang berlangsung di pesantren Al Falah dari kemarin, Minggu (21/6/2026).

Bacaan Lainnya

Jadi kegiatan ini yang yaitu pedah buku yang ditulis oleh sahabat saya, Samsul Mu’arif, itu adalah salah satu bagian dari cara kami untuk menghormati perhelatan besar yang namanya munas dan konfes ini. “Nah ada satu poin yang ingin saya sampaikan bahwa kita mengangkat isu regenerasi melalui buku ini.

Tujuannya adalah untuk memberikan satu penyegaran di dalam konteks konflik yang sedang terjadi di dalam tubuh Nato Tulama. Di mana ada satu situasi pertentangan yang sampai hari ini saya kira belum terselesaikan secara baik, ” ungkapnya.

“Nah kami ingin menyampaikan bahwa sudah waktunya kita memberikan kesempatan kepada anak-anak muda NU yang memiliki background dan pengalaman yang juga cukup baik untuk menjadi salah satu bagian dari upaya untuk memperbaiki NU tadi,” harapnya.

“Atau dalam bahasa ya profesor tadi adalah ikhtiar kita untuk mencoba memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang sedang terjadi di NU.

Gus Hery menambahkan, kaitannya ke depan tentunya kita tahu bahwa dalam satu bulan ke depan akan ada muktamar.
Per NU yang kita belum tahu akan terjadi di mana.

Ada dua tempat yang memang sedang mencalonkan diri sebagai tuan rumah yaitu NTB dan kemungkinan Jakarta atau Jawa Barat.

” Nah kita ingin mengangkat tema perubahan itu dari Jawa Timur karena Jawa Timur adalah tempat lahirnya NU. “Jadi mudah-mudahan dengan isu kebangkitan baru NU itu kita mulai dari Jawa Timur untuk menjadikan NU organisasi nasional yang berdampak. Tidak hanya bagi NU, tapi juga bagi bangsa dan negara dan tentunya bagi umat manusia, peradaban manusia.

Di tengah pertanyaan besar itulah buku “Gus Hery Haryanto Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU” hadir. Buku ini bukan sekadar biografi tokoh. Ia lebih menyerupai peta jalan tentang masa depan NU. Sosok Gus Hery menjadi pintu masuk untuk membahas pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang mampu menavigasi organisasi Islam terbesar di dunia ini menuju abad keduanya?

NU Bukan Sekadar Organisasi
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menempatkan NU dalam perspektif yang luas.

Penulis mengajak pembaca melihat NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebuah kekuatan peradaban. Dari pesantren-pesantren sederhana di desa hingga forum internasional, NU telah memainkan peran penting dalam menjaga moderasi Islam, keutuhan bangsa, dan harmoni sosial Indonesia.

Buku ini mengingatkan bahwa kebesaran NU tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Abad pertama NU adalah era membangun fondasi. Abad kedua harus menjadi era lompatan peradaban.
Gagasan inilah yang menjadi benang merah hampir di seluruh halaman buku.
Sosok Gus Hery dalam Narasi Perubahan
Dalam buku ini, Gus Hery Haryanto Azumi digambarkan sebagai representasi generasi transisi NU.

Ia lahir dari tradisi Nahdliyin, tumbuh dalam kultur pesantren, aktif dalam gerakan mahasiswa, dan memiliki pengalaman organisasi yang panjang. Namun pada saat yang sama, ia juga dipotret sebagai figur yang memahami isu-isu modern: teknologi, ekonomi, diplomasi internasional, geopolitik, hingga transformasi kelembagaan.
Menariknya, penulis tidak sekadar menampilkan Gus Hery sebagai tokoh politik organisasi. Ia berusaha memosisikannya sebagai simbol kebutuhan regenerasi dalam tubuh NU.

Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: NU membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara dalam dua bahasa sekaligus, bahasa pesantren dan bahasa dunia.

Membaca NU dari Kacamata Para Pakar Dunia
Bagian paling menarik dalam buku ini mungkin terdapat pada Prolog yang mengulas pemikiran para sarjana dunia seperti Greg Barton, Robert Hefner, Azyumardi Azra, John L. Esposito, Mitsuo Nakamura, Jeremy Menchik, hingga Gus Dur.
Melalui pandangan para akademisi tersebut, pembaca diajak memahami bahwa regenerasi bukanlah ancaman bagi tradisi. Justru regenerasi adalah cara tradisi tetap hidup.

Gagasan ini terasa relevan bukan hanya bagi NU, tetapi juga bagi banyak organisasi besar yang sering kali terjebak antara mempertahankan warisan masa lalu dan menghadapi tuntutan masa depan.

Dari Pesantren ke Peradaban Dunia
Buku ini juga menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan dalam literatur organisasi keagamaan: keberanian berpikir jauh ke depan.

Penulis membahas bagaimana NU dapat bertransformasi menjadi kekuatan global melalui pendidikan, ekonomi, teknologi, diplomasi Islam moderat, hingga pengembangan sumber daya manusia. Daftar isi buku bahkan menunjukkan pembahasan mengenai kecerdasan buatan, digitalisasi pesantren, ekonomi umat berbasis pesantren, dan diplomasi internasional Islam moderat.

Bagi pembaca muda, bagian ini terasa segar karena NU tidak lagi dipotret sebagai organisasi yang hanya berkutat pada persoalan internal, tetapi sebagai aktor yang berpotensi berkontribusi pada percaturan global.

Bahasa yang Mengalir dan Mudah Dicerna
Sebagai seorang jurnalis senior, Samsul Muarif menulis dengan gaya yang komunikatif. Ia mampu menggabungkan data, sejarah, analisis, dan narasi tokoh dalam bahasa yang relatif ringan.

Buku setebal lebih dari 300 halaman ini tidak terasa seperti karya akademik yang berat. Sebaliknya, ia mengalir seperti laporan panjang tentang perjalanan sebuah organisasi besar yang sedang mencari arah baru.

Karena itu, buku ini bisa dibaca oleh berbagai kalangan: warga Nahdliyin, santri, akademisi, aktivis organisasi, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin memahami masa depan NU.

Lebih dari Sekadar Buku Tokoh
Pada akhirnya, kekuatan terbesar buku ini justru terletak pada pesan yang melampaui sosok Gus Hery itu sendiri.
Buku ini berbicara tentang regenerasi.
Tentang pentingnya keberanian membaca zaman.

Tentang bagaimana organisasi besar tidak cukup hanya mengandalkan kebesaran sejarah. Dan tentang keyakinan bahwa tradisi tidak akan pernah kehilangan makna selama ia mampu melahirkan pembaru.
Dalam konteks itulah, “Gus Hery Haryanto Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU” bukan sekadar buku tentang seorang calon pemimpin NU. Ia adalah refleksi mengenai masa depan Nahdlatul Ulama, sekaligus ajakan untuk membayangkan seperti apa wajah Islam Indonesia seratus tahun ke depan.

Sebuah buku yang memadukan sejarah, gagasan, dan visi masa depan secara elegan. Layak dibaca oleh siapa pun yang peduli pada masa depan NU, Islam Indonesia, dan arah peradaban bangsa di abad ke-21.

Pos terkait