RMI dan Lakpesdam PBNU Matangkan Strategi Pesantren Ramah Anak

KEDIRI–UpdateNewstv-Di tengah riuhnya gelaran Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama yang berpusat di Ploso, sebuah agenda krusial bagi masa depan pendidikan Islam digelar. Bertempat di Pondok Pesantren Al Falah II (Ploso 2), Kediri, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Lakpesdam PBNU menggelar Halaqah Pengasuh Pesantren pada 20–21 Juni 2026.

​Forum ini bukan sekadar pertemuan formal di sela-sela padatnya agenda Munas-Konbes, melainkan ruang refleksi mendalam bagi para kiai, nyai, dan pengasuh pesantren se-Jawa Timur.

Mereka berkumpul untuk meneguhkan kembali komitmen moral dalam melindungi santri di tengah derasnya hantaman era digital.

Bacaan Lainnya

​Sekretaris RMI PBNU, Ulun Nuha (Gus Ulun), membedah realitas yang jamak dihadapi dunia pendidikan Islam saat ini. Menurutnya, pesantren kini berhadapan dengan tiga tantangan simultan: meningkatnya pelaporan kasus, masifnya paparan media, dan hilangnya kesabaran publik dalam menunggu proses hukum formal.

​Gus Ulun mengingatkan dengan tegas bahwa dalam isu kekerasan, kacamata yang digunakan haruslah perspektif korban.
​”Dalam perspektif korban, satu korban tetaplah satu korban. Persoalan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai angka statistik. Ketika ada satu anak menjadi korban, itu harus menjadi perhatian serius kita bersama,” ujar Gus Ulun yang juga bertindak sebagai fasilitator halaqah.

​Ia menambahkan, kecepatan informasi di media sosial kerap membuat publik langsung menghakimi tanpa melihat duduk perkara secara utuh. “Dulu yang memegang mikrofon adalah orang alim dan kiai. Sekarang semua orang bisa berbicara tanpa ilmu,” tuturnya retoris di hadapan peserta halaqah di Ploso 2 tersebut.
​Menolak Panik, Menjadikan Kritik sebagai Bahan Evaluasi.

​Sorotan tajam dari publik dan media digital tak pelak memunculkan kekhawatiran akan merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren. Namun, fakta di lapangan ternyata berbicara lain.

​Gus Heri, salah satu pengasuh pesantren yang hadir, mengimbau agar para rekan sejawat tidak terjebak dalam kepanikan akibat narasi media sosial yang sepotong-sepotong. Ia meluruskan anggapan keliru bahwa minat masyarakat ke pesantren sedang terjun bebas.
​”Ada pesantren besar yang memang mengalami penurunan jumlah santri, namun tidak sedikit pesantren kecil yang justru mengalami peningkatan signifikan. Kondisinya sangat beragam,” jelas Gus Heri.

​Di sisi lain, nada optimisme bernuansa otokritik disampaikan oleh Ning Nuvis dari Nawaning Nusantara. Berbekal pengalaman mendampingi lebih dari 100 pesantren, ia mengajak seluruh pengasuh untuk berani berkaca. Menurutnya, ada beberapa praktik tradisional yang selama ini dianggap lumrah, namun ternyata berpotensi bersinggungan dengan prinsip perlindungan anak.

​”Kita jangan hanya melihat berita sebagai serangan terhadap pesantren. Kita juga harus menjadikannya bahan refleksi untuk memperbaiki sistem yang ada,” ungkap Ning Nuvis.

​Transformasi Tanpa Standarisasi: Merawat Kekhasan Pesantren
​Ketua Lakpesdam PBNU, Ufi Ulfiyah, menekankan bahwa agenda Transformasi Pesantren (TP) yang digawangi RMI dan Lakpesdam bertumpu pada tiga pilar utama: kurikulum, kepengasuhan, dan penguatan SDM. Kendati demikian, Ufi menggarisbawahi bahwa transformasi ini tidak bertujuan untuk menyeragamkan pesantren.

​”Jangan menstandarisasi pesantren karena itu berbahaya. Pesantren memiliki karakter dan kekhasan yang berbeda-beda. Proses transformasi harus dilakukan secara bertahap dan sesuai konteks masing-masing,” tegas Ufi.

​Senada dengan Ufi, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menyampaikan bahwa adaptasi terhadap standar norma baru di masyarakat adalah kunci agar pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang otoritatif sekaligus aman. Ia menyayangkan fenomena generalisasi negatif yang kerap terjadi di masyarakat.

​”Satu pesantren mengalami kasus, pesantren lain ikut mendapatkan getahnya. Karena itu kita harus bersama-sama menjaga marwah pesantren sekaligus memperkuat sistem perlindungan bagi santri,” pungkas KH Hodri.

​Halaqah dua hari yang memanfaatkan momentum berkumpulnya para tokoh NU di Ploso ini diharapkan menjadi batu pijakan konkret bagi lahirnya Modul Pesantren Ramah Anak berbasis enam pilar Transformasi Pesantren. Langkah berkelanjutan ini dirancang agar pesantren di seluruh Indonesia tidak hanya kokoh secara spiritual dan keilmuan, tetapi juga menjadi rumah yang paling aman dan nyaman bagi generasi masa depan umat.