Muktamar NU Menjadi Perhatian Khusus Kiai Sepuh Dengan Gelar Tausyiah

KEDIRI | UPDATENEWSTV – Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, mendapat perhatian serius dari para ulama sepuh. Mantan Wakil Presiden RI ke-13, KH Ma’ruf Amin menggelar pertemuan khusus atau Tausyiah bersama jajaran Kiai Sepuh, di Ruang Aula Muktamar Ponpes Lirboyo, ” Rabu (26/8/2026) sore.

​Tausiyah tersebut dihadiri oleh sesepuh ulama, di antaranya KH Anwar Manshur (Lirboyo), KH Abdullah Kafabihi Mahrus (Lirboyo), KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir (Kajen), KH Abdullah Ubab Maimoen (Rembang), dan KH Muhibbul Aman Aly (Pasuruan).

​Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari konsolidasi di Ponpes Tebuireng untuk melahirkan tausiyah moral demi menjaga integritas organisasi.

Bacaan Lainnya

​Usai pertemuan, KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa tausiyah ini dirancang sebagai bentuk nushhu, nasihat tulus dari orang yang mencintai organisasi kepada seluruh Nahdliyin, muktamirin, panitia, hingga pihak eksternal,” jelasnya.

​Beliau menekankan agar Muktamar tidak dicemari oleh money politics, intervensi, maupun tekanan psikologis yang dapat merusak marwah keulamaan.

​”Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengurus urusan umat padahal ia tahu ada orang lain yang lebih afdal, maka sungguh ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Memilih yang tidak terbaik saja sudah khianat, apalagi jika memilih karena ada sesuatu (dorongan materi). Itu bisa menjadi sunnah sayyi’ah yang dosanya mengalir,” ungkap KH Ma’ruf Amin.

Sedangkan dalam pertemuan tersebut menghasilan 7 poin utama dalam Tausyiah moral Kiai Sepuh bagi perjalanan Muktamar NU.

Untuk Poin pertama, Nahdlatul Ulama adalah
Jam’iyah diniyah istimaiyah yang menjunjung tinggi adab dan ahlakul qarimah, serta memegang teguh hitonah, Jagalah keluhuran misi, marwah, dan kehormatan
Jam’iyah. Jauhkan Muktamar dari segala
Tindakan yang tidak terpuji dan bertentangan dengan Akhlakul Alima.

Poin kedua, Muktamar adalah, Forum permusatan para Kiai, Ulama dan pemegang amal jamiah, ” bermusyawarahlah dengan akal sehat, hati yang jernih dan akhlak yang mulia, pilihlah pemimpin yang terbaik.

Poin ketiga, Jaga kehormatan dan martabatnya, jangan nodai proses penentuan ahwah dengan transaksi, tekanan, rekayasa atau cara-cara yang tidak terpuji, yang mencederai kemuliaan para ulama.

Poin keempat, Mutamirin adalah pemegang kedaulatan dalam utama, ” hormati hak dan kemerdekaannya, jangan ada pengondisian
tekanan manipulasi ataupun rekayasa yang mengurangi kebebasan mutamirin
dalam menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan.

Untuk Poin Kelima, Menyerukan kepada pemerintah dan partai politik untuk menghormati kemandirian NU serta tidak melakukan intervensi. Dan poin Keenam, kami menaruh kepercayaan kepada Bapak Presiden, untuk menjaga agar pemerintah tetap berdiri pada posisi menghormati kemajuan dan tuntunan, apabila terdapat pejabat, menteri, atau lainnya, yang melakukan tindakan tidak patut, yang dapat dinilai sebagai intervensi terhadap proses mutamar.

” Kami berharap kepada Bapak Presiden untuk mengambil tindakan yang tegas,” Kami siap menghadap Bapak Presiden untuk menyampaikan secara langsung informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan kami demi menjaga kehormatan pemerintah, kemaslahatan ulama, dan kedaulatan utama.

Poin yang terakhir ke tujuh, menyerukan kepada pihak-pihak yang mengacau proses Muktamar, untuk segera menghentikan tindakannya, karena orang yang baik adalah orang yang menyadari kesalahannya dan tidak melanjutkan tindakannya. Diharapkan adanya tausiyah ini mampu membentengi kedaulatan muktamirin agar Muktamar ke-35 NU berjalan damai, jujur, adil dan berkapasitas.

Pos terkait