Nganjuk | Updatenewstv- Setiap malam, tepat pukul 19.00 WIB, suasana Jalan Veteran, Kelurahan Ganung Kidul, Kota Nganjuk, selalu memiliki daya tarik tersendiri. Di salah satu sudut jalan tersebut, Hajjah Ninik Mujiati tampak sibuk melayani pembeli di gerai STMJ miliknya. Dengan ciri khas hijab dan busana syar’i, perempuan tangguh ini konsisten menemani pelanggan hingga larut malam.
Sebagai ibu tunggal yang tinggal di Jalan Brantas No.10, Kelurahan Werungotok, Kota Nganjuk, Hajjah Ninik telah menekuni usaha STMJ selama 14 tahun. Perjalanan panjang itu ia jalani seorang diri, tanpa banyak mengeluh.
Sejak awal membuka gerai STMJ ini, saya memang mengelolanya sendiri,” tuturnya saat ditemui, Minggu malam (1/2/2026).
Cita rasa khas STMJ racikan Hajjah Ninik, khususnya varian ITB, menjadi magnet utama pelanggan. Hampir setiap malam, persediaan minuman hangat berkhasiat ini selalu habis dalam waktu dua hingga tiga jam. Ramainya pembeli menjadi bukti kepercayaan masyarakat terhadap kualitas produknya.
Kerja keras yang dijalani dengan penuh ketekunan itu membuahkan hasil luar biasa. Dari usaha tersebut, Hajjah Ninik mengaku telah mampu menunaikan ibadah haji sebanyak tiga kali dan umrah tujuh kali.
Boleh disampaikan ke media, ini semua dari usaha STMJ,” ucapnya sambil tersenyum.
Statusnya sebagai single mom justru menjadi sumber semangat terbesar. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan alasan untuk berjuang lebih keras.
Sebelum terjun ke bisnis STMJ pada 2012, Hajjah Ninik sempat menimba ilmu pengobatan tradisional Tionghoa atau sinshe di Jombang. Bekal tersebut membuatnya memahami berbagai ramuan herbal, termasuk resep ma’jun berbahan akar-akaran yang kini menjadi andalan.
Semua ramuan kami alami, tanpa bahan kimia. Resep ma’jun ini saya pelajari secara serius saat belajar ilmu sinshe,” jelasnya.
Ia menegaskan, setiap racikan dibuat dengan penuh kehati-hatian. Bukan hanya mengejar rasa, namun juga manfaat bagi kesehatan pelanggan.
Apresiasi pun datang dari para penikmat STMJ. Bagus Jati Kusumo, warga Tanjung Green Regency, mengaku rutin membeli STMJ racikan Hajjah Ninik.
Khasiatnya terasa, stamina jadi bertambah. Cocok buat isi tenaga setelah seharian kerja, rasanya juga enak,” katanya.
Hal senada disampaikan Sofyan Hanafi, pekerja kantoran di Kota Nganjuk. Ia mengaku sering mampir membeli STMJ sepulang kerja.
Badannya jadi enak dan terasa segar. Pantas saja selalu cepat habis,” ungkapnya.
Di usia 47 tahun, Hajjah Ninik telah mengukir perjalanan hidup yang inspiratif. Bahkan sebelum fokus pada STMJ, ia sudah lebih dulu mengelola usaha budidaya ikan patin dan gurami sejak 2004 di kolam berukuran 18×40 meter.
Alhamdulillah, selain STMJ saya juga masih menjalankan usaha pembesaran ikan,” ujarnya.
Ketangguhannya juga terbukti saat masa pandemi Covid-19. Ketika banyak usaha goyah, gerai STMJ miliknya justru tetap bertahan dan laris.
Saat pandemi, buka dua jam saja sudah habis. Dari hasil itu, Alhamdulillah bisa membangun kos-kosan,” kenangnya.
Tak berhenti di situ, pada 2024 Hajjah Ninik berhasil membeli dua kavling rumah yang digabung menjadi satu. Ia juga merambah usaha travel haji dan umrah yang telah berjalan selama empat tahun terakhir.
Kisah hidup Hajjah Ninik menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan status sosial bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Dengan ilmu, ketekunan, dan keyakinan, setiap usaha yang dijalani sepenuh hati akan berbuah manis di kemudian hari.
(Tim)






















