KEDIRI | UPDATENEWSTV – Warga dua Desa Satak dan Desa/ Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menggelar aksi penolakan terhadap penambangan pasir oleh PT (EPAS) di wilayah mereka.
Aksi penolakan dilakukan warga dengan memasang spanduk penolakan di beberapa titik, mulai jalan masuk Desa sampai sekitar lokasi penambangan pasir.
Warga khawatir dan resah, aktivitas penambangan akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan, dan juga menyebabkan krisis air bersih.
“Warga secara tegas menolak PT EPAS yang akan kembali melakukan aktivitas penambangan di wilayah afdeling Damarwulan Desa Puncu. Warga resah dan khawatir, pengerukan pasir secara terus-menerus akan merusak struktur tanah dan mematikan sumber mata air alami yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat,” Kata Mujianto, salah warga Desa Satak (pake kaos orange), saat ditemui usai memasang spanduk penolakan, Minggu (9/8/2026).
Terbukti, adanya aktivitas tambang pasir, mengakibatkan pipa-pipa air bersih rusak dan hampir putus di beberapa titik.
Karena selama ini, warga dua Desa, yakni Satak dan Desa Puncu menggantungkan air bersih dari tandon penampungan air ini dibangun oleh sejak zaman Belanda.
Dari tandon yang berasa di lereng pegunungan tersebut, kemudian dialirkan menggunakan pipa-pipa ke rumah-rumah warga dua Desa. Namun saat ini, di beberapa titik, pipa-pipa tersebut rusak dan hampir putus, dampak aktivitas tambang pasir.
“Tandon air bersih yang dibangun sejak sejak zaman Belanda ini, digunakan oleh warga 2 Desa, yakni Desa Satak dan Desa Puncu. Namun kini pasokan air mulai berkurang, akibat adanya dampak penambangan pasir PT EPAS.” Ujar Suyitno, ketua RW Desa Satak (pake topi biru).
Penambangan pasir sejak 2017 tersebut, memicu menyusutnya debit air bersih, tanah longsor, hingga terciptanya jurang sedalam 30 meter di area sungai. Kerusakan ini mengancam pasokan air bagi sekitar 4.000 hingga 6.000 jiwa yang kini terpaksa membeli air galon hingga mengandalkan bantuan tangki air darurat.



























