NGANJUK | UPDATENEWSTV – Jejak perjalanan sejarah Kabupaten Nganjuk tersimpan dalam berbagai benda koleksi yang dipamerkan di Museum Anjuk Ladang. Beragam peninggalan tersebut menjadi gambaran perjalanan kehidupan masyarakat dari masa prasejarah hingga periode setelah Indonesia merdeka.
Kabid Kebudayaan Disporabudpar Nganjuk, Amin Fuadi mengatakan, koleksi Museum Anjuk Ladang telah mencakup berbagai periode sejarah, termasuk peninggalan dari masa kolonial dan perjuangan kemerdekaan.
“Museum Anjuk Ladang ini alhamdulillah kita koleksi itu sudah ada keterwakilan dari masa ke masa ya. Mulai dari prasejarah sampai pasca kemerdekaan. Itu sudah ada,” ujar Amin Fuadi.
Sejumlah benda yang berkaitan dengan masa kolonial dan perjuangan turut menjadi bagian dari koleksi museum. Di antaranya berupa pusaka yang pernah digunakan para pejuang Jawa, seperti keris, pedang, tombak, serta berbagai jenis senjata lainnya.
Koleksi lain yang tak kalah menarik berasal dari era kolonial, seperti pedang tentara KNIL, helm, pistol, hingga sejumlah perangkat telepon. Museum juga menyimpan beberapa sepeda onthel yang pada masa itu digunakan oleh petugas tentara maupun kepolisian.
Menurut Amin, melengkapi koleksi bersejarah tersebut bukan pekerjaan yang mudah. Untuk memperoleh sejumlah benda, pihak museum harus menjalin kerja sama dengan para kolektor.

“Kami terus terang untuk mendapatkan itu juga agak repot. Akhirnya kita bekerja sama dengan kolektor untuk yang mereka punya itu akhirnya kita beli,” ungkapnya.
Upaya melengkapi koleksi hingga kini masih terus dilakukan. Salah satu benda yang tengah diupayakan untuk diperoleh adalah telepon jinjing yang dahulu digunakan oleh pasukan militer.
Selain koleksi benda bersejarah, Museum Anjuk Ladang juga memiliki kaitan erat dengan kisah perjuangan tokoh-tokoh lokal Nganjuk pada masa kolonial. Beberapa di antaranya yakni Dermodjoyo dan Kapten Kasihin yang namanya kini diabadikan melalui patung di kawasan Alun-alun Nganjuk.
Ada pula sosok Lurah Surodarmo yang disebut sebagai salah satu pejuang dari Nganjuk. Namun, informasi mengenai kiprah dan perjuangannya hingga kini masih terbatas.
Amin berharap sejarah para pejuang lokal tersebut dapat dikaji lebih mendalam sehingga keberadaan dan jasa mereka dapat tercatat serta memperoleh pengakuan secara resmi dari pemerintah daerah.
“Harapannya nanti ke depan setelah di sehat itu dilakukan kajian ya sehingga nama-nama mereka ini nanti muncul dan bisa diakui pemerintah daerah,” pungkasnya.
(Tim)



























