NGANJUK | UPDATENEWSTV – Kabar terbaru datang dari kawasan Puncak Gunung Wilis. Jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau pada Jumat, 18 September 2026 pagi mengalami penurunan.
Berdasarkan pemantauan terbaru Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Nganjuk, hingga pukul 07.30 WIB tercatat sebanyak 13 titik panas yang terdeteksi di kawasan Gunung Wilis.
Pranata Meteorologi dan Geofisika Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris, menjelaskan dari 13 titik panas tersebut, sebanyak 11 titik berada di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Sementara dua titik lainnya berada di wilayah Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.
Khusus di wilayah Ngliman, jumlah hotspot mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan sebelumnya yang mencapai 27 titik.
Meski jumlah titik panas terus berkurang, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi kebakaran telah sepenuhnya aman.
“Penurunan jumlah hotspot atau titik panas ini menunjukkan bahwa anomali panas yang terdeteksi oleh satelit itu mengalami penurunan. Namun, kondisi ini belum dapat diartikan bahwa kebakaran yang terjadi di Gunung Wilis ini telah padam sepenuhnya. Jadi, masih perlu diwaspadai,” ujar Setiyaris.
Dari hasil pengamatan secara visual di Stasiun Geofisika Nganjuk, kepulan asap masih terlihat dari kawasan puncak Gunung Wilis. Namun, intensitas asap tersebut sudah tidak setebal maupun sebanyak hari-hari sebelumnya.
Sementara terkait kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan api bergerak mendekati permukiman di wilayah Kabupaten Nganjuk, Setiyaris menyebut jarak lokasi kebakaran saat ini masih relatif aman.
Berdasarkan laporan dari BPBD Kabupaten Nganjuk, titik terakhir kebakaran berjarak sekitar 15 kilometer dari permukiman warga dan berada di lereng gunung sebelah yang belum dihuni masyarakat.
Meski demikian, potensi penyebaran api akibat kondisi angin kencang dan cuaca panas masih perlu diantisipasi.
“Walaupun api ada di gunung sebelah kena pengaruh dari angin bisa saja percikan api ini terbawa angin lompat ke sebelah atau karena kencangnya angin sehingga api bisa merembet ke sebelah. Jadi, semua masih serba mungkin,” ujar Setiyaris.
BMKG pun mengimbau masyarakat, terutama warga yang tinggal di kawasan lereng Gunung Wilis seperti Desa Ngliman, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang cenderung kering dan panas.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah tanpa pengawasan. Sebab, sumber api sekecil apa pun berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.
“Masyarakat diimbau tidak mendekati lokasi kebakaran terutama untuk kawasan hutan maupun jalur pendakian di sekitar Gunung Wilis yang terjadi kebakaran,” tegasnya.
Apabila warga menemukan titik api atau melihat kepulan asap yang semakin meluas, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada petugas terkait serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pihak berwenang.
(TIM)




























