NGANJUK | UPDATENEWSTV– Kegiatan karnaval di Pekalongan yang digelar bertepatan dengan momentum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menuai perhatian dan kontroversi di tengah masyarakat.
Karnaval tersebut menjadi sorotan setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah peserta mengenakan atribut serta menampilkan adegan yang diduga dikaitkan dengan ritual “satanic”.
Menanggapi hal tersebut, Ketua ICMI Kabupaten Nganjuk, Muhammad Roisuddin, menilai kreativitas generasi muda dalam sebuah kegiatan pada dasarnya merupakan hal yang positif. Namun, menurutnya, persoalan muncul ketika kreativitas tersebut menggunakan atribut atau simbol asing yang dianggap sensitif.
“Yang menjadi kontroversi kemudian ketika membawa atribut atau isu atau ritus itu bukan merupakan berasal dari Indonesia,” ungkap Rois.
Rois juga menyebut adanya anggapan bahwa ritus satanic maupun Freemasonry merupakan tradisi yang berasal dari luar negeri. Menurutnya, penggunaan visual atau simbol semacam itu perlu diperhatikan, terutama jika ditampilkan dalam momentum keagamaan.
Ia menilai penampilan simbol-simbol tersebut berpotensi menimbulkan persoalan terhadap pemahaman akidah tauhid umat Islam, khususnya di kalangan generasi muda atau Gen Z.
Menurut Rois, peringatan Maulid Nabi semestinya menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah Muhammad SAW, seperti menjunjung kejujuran, keadilan, serta kepedulian dan empati terhadap sesama.
“Saya kira itu cita-cita mulia dari rangkaian kegiatan Peringatan Maulid Nabi ini. Bukan kemudian menyusupkan ritus atau praktik dari hal-hal yang mengganggu kemapanan tauhid kaum muslim,” tegasnya.
Ketua ICMI Nganjuk tersebut juga mengingatkan kaum muda, khususnya Gen Z di Kabupaten Nganjuk, agar menerapkan prinsip tabayun atau melakukan konfirmasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi di media sosial.
Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan untuk memastikan informasi yang diterima benar dan tidak menimbulkan dampak negatif di kemudian hari.
“Saring sebelum sharing di era media sosial hari ini,” kata Rois.
Sebelumnya, video karnaval yang berlangsung di Pekalongan pada 10 September 2026 viral di media sosial dan diduga menampilkan unsur yang dikaitkan dengan satanic.
Dalam video tersebut terlihat sekelompok orang mengenakan kostum dan membawa atribut yang oleh sebagian pihak dianggap identik dengan simbol atau ritual Freemasonry. Karnaval itu disebut-sebut digelar dalam rangka HUT Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi.
Video tersebut kemudian menuai beragam reaksi dari masyarakat. Sejumlah warga menyayangkan penggunaan kostum maupun adegan yang dianggap memiliki kemiripan dengan simbol ritual satanic dalam kegiatan tersebut.
(TIM)




























