Menguak Sejarah Bupati Pertama Bojonegoro dan Nganjuk pada Tradisi Nyadran Desa Sugihwaras Ngluyu

 

Bacaan Lainnya

Nganjuk | Updatenewstv- Warga Dusun Cabeyan, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngluyu Nganjuk menggelar acara Bersih Dusun atau Tradisi Nyadran wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada Jumat Pahing (25/4/2025).

Nyadran diawali dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk para leluhur. Masyarakat berharap, arwah para pendahulu mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, tradisi ini juga diyakini dapat membawa keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga desa.

Menurut Juru Kunci Desa Sugihwaras, tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak zaman nenek moyang.

Acara ini adalah acara adat yang sudah dilakukan sejak dahulu kala. Setiap tahun pasti diadakan. Tugas kita sekarang hanya melestarikan,” ujarnya.

Setelah pembacaan doa, dilanjutkan dengan bancaan atau kendurenan, yaitu makan bersama di empat titik lokasi berbeda yang dianggap sakral dan memiliki nilai historis tinggi:

  1. Makam Mbah Uneng Sosrodiningrat,
  2. Makam Eyang Sosrodiningrat (Rajeg Wesi)
  3. Goa Margo Tresno / Punden Pengairan (Pangeran Alit)
  4. Rumah Kamituwo Desa Sugihwaras

Masing-masing tempat menyimpan cerita dan keyakinan tersendiri. Yang paling menarik adalah makam Eyang Sosrodiningrat atau Rajeg Wesi, sosok Bupati pertama Bojonegoro, kakak dari Kanjeng Jimat (Raden Tumenggung Sosrokusumo I). Menurut kepercayaan warga, di makam tersebut terdapat “pundung” – benda mistis yang disebut bisa mencerminkan kondisi rezeki warga desa.

Kalau pundung itu membesar, tandanya rejeki warga meningkat. Tapi kalau mengecil, berarti rejeki juga ikut menurun,” jelas Suyatno, Kepala Desa Sugihwaras.

Suyatno menjelaskan, dalam kunjungan di empat lokasi tersebut, terdapat larangan yang harus dipatuhi.

Yang tidak boleh dipakai atau dibawa. Yang pertama hari pasaran Wage dan legi tidak boleh masuk di ruangan Makom. Tidak boleh memakai atau membawa batik motif palang rusak, palang balong, palang klitik,” katanya.

Tak berhenti di situ, malam harinya tradisi dilanjutkan dengan Tayuban, pertunjukan seni tradisional yang menjadi warisan budaya leluhur. Yang khas dari Tayuban ini adalah Gending Eling-eling, lagu tradisional Jawa yang wajib digunakan sebagai pengiring utama, menambah nuansa sakral dan khas dalam pertunjukan.

Suyatno memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat dan kekompakan warganya dalam menjaga tradisi ini.

Semoga tahun depan lebih kompak, lebih sadar dan lebih bersyukur. Tradisi ini bukan hanya soal adat, tapi juga menyatukan kita semua dalam satu nilai: gotong royong dan penghormatan terhadap sejarah,” pungkasnya.

Tradisi Nyadran di Dusun Cabeyan bukan sekadar ritual tahunan, tapi menjadi cermin dari kekuatan budaya, spiritualitas, dan persatuan warga. Sebuah warisan luhur yang tak hanya dijaga, tapi terus dihidupkan dari generasi ke generasi.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Nganjuk yang diwakili oleh Kepala Dinas PUPR Nganjuk, Gunawan Widagdo mengatakan bahwa Dinas PUPR memiliki kegiatan pendukung dari program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD), sesuai untuk memperbaiki akses jalan yang kurang baik menuju makam Eyang Sosrodiningrat yang berjarak kurang lebih 550 meter dari jalan Desa.

Kegiatan pendukung program TMMD dari Dinas PUPR termasuk jalan dari Desa Sugehwaras menuju makam yang masih berbentuk makadam akan dilapen,” ujarnya.

Acara tersebut dihadiri Kadis PUPR Nganjuk Gunawan Widagdo, Camat Ngluyu Imam Tarmuji, Kades Sugehwaras Suyatno, TNI-Polri serta para warga setempat.

 

(Ricko)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *