IJTI–Kemnaker Perkuat Sinergi, Dorong Jurnalis Siap Hadapi Disrupsi Digital

Jakarta | Updatenewstv- Pengurus Pusat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menggelar audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, ST, MT, Ph.D., di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta. Pertemuan tersebut menghasilkan strategi kesepahaman dalam memperkuat ketahanan profesi jurnalis di tengah derasnya arus transformasi digital.

Audiensi ini menandai komitmen bersama antara IJTI dan Kemnaker untuk membangun ekosistem pers nasional yang lebih adaptif, khususnya melalui peningkatan kompetensi jurnalis di bidang teknologi dan platform digital.

Kolaborasi yang disepakati mencakup program pelatihan, upskilling, serta reskilling bagi jurnalis agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola kerja industri media yang semakin dinamis.

Menteri Ketenagakerjaan, Prof. Yassierli, menegaskan bahwa transformasi digital bukan ancaman, melainkan peluang ketika dihadapkan pada kesiapan sumber daya manusia.

Disrupsi digital adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Kuncinya ada pada kompetensi. Kolaborasi dengan IJTI menjadi langkah penting untuk memastikan jurnalis Indonesia siap bersaing dan berkembang,” ujar Prof. Yassierli.

Ia juga menyoroti kondisi jurnalis yang memberikan efisiensi efisiensi di sejumlah perusahaan media. Menurutnya, pemerintah menyiapkan program pelatihan berbasis digital sebagai solusi jangka panjang.

Kami ingin jurnalis tidak hanya kembali bekerja, tetapi juga memiliki kemampuan baru untuk menjadi pelaku usaha media yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menilai kerja sama ini sebagai langkah strategis dalam menyiapkan jurnalis menghadapi masa depan industri media.

Jurnalis harus adaptif. Melalui program ini, kami ingin membentuk jurnalis yang tidak hanya bergantung pada sistem kerja lama, tetapi mampu menciptakan peluang baru di era digital,” ungkap Herik.

Ia berharap, sinergi IJTI dan Kemnaker dapat melahirkan jurnalis yang profesional, inovatif, serta mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai etika jurnalistik.

Kolaborasi ini diyakini menjadi fondasi penting bagi hilangnya profesi jurnalis Indonesia, sekaligus membuka jalan menuju ekosistem media yang lebih tangguh, mandiri, dan berorientasi masa depan.

 

(Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *