MUKIDI BANGGA BAWA NAMA NGANJUK KE PERFILMAN NASIONAL LEWAT FILM PIYE TO KIH?

NGANJUK | UPDATENEWSTV – Kreativitas anak daerah kembali mendapat kesempatan untuk bersaing di industri perfilman Indonesia. Kali ini, Woko Channel menghadirkan karya layar lebar bertajuk Piye To Kih?, sebuah film yang memadukan genre drama, komedi, dan supranatural.

Menjelang penayangan perdananya di bioskop, tim produksi bersama para pemain menggelar rangkaian roadshow dengan menyambangi Kabupaten Nganjuk pada Jumat (30/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Sam’s Studio Nganjuk tersebut dikemas melalui acara nonton duluan dan meet and greet. Sutradara Ito Mavin bersama sejumlah pemain turut hadir untuk menyapa penonton sekaligus memperkenalkan film yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.

Bacaan Lainnya

Kunjungan ini menjadi momen istimewa bagi Heri Chandra atau yang lebih dikenal dengan nama Mukidi. Aktor asal Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk itu mengungkapkan kebanggaannya karena mendapat kesempatan membawa nama daerah kelahirannya ke industri perfilman nasional.

Terlebih, film produksi MIRACLE Pictures tersebut menjadi pengalaman pertamanya dipercaya sebagai pemeran utama dalam sebuah film layar lebar.

“Sangat bangga sekali, Mas. Bangga sekali bisa mengangkat Nganjuk ke nasional,” ungkap Mukidi.

Di balik pengalaman tersebut, Mukidi juga mengungkapkan sejumlah tantangan selama proses pengambilan gambar. Salah satunya ketika harus berakting dengan sebuah boneka yang dalam cerita menjadi tempat bersemayamnya arwah Sukma, tokoh yang diperankan Dara Sarasvati.

“Gimana ya. Bingung, Mas. Lawan mainnya boneka soalnya. Jadi bisa enggak bisa, harus bisa,” ujarnya yang disambut gelak tawa.

Sementara itu, sutradara Ito Mavin menjelaskan bahwa proyek film Piye To Kih? berawal dari ketertarikannya terhadap potensi para kreator Woko Channel.

Ia menilai para pemain memiliki kemampuan akting serta karakter komedi yang kuat. Potensi tersebut dinilai layak dikembangkan ke ranah perfilman layar lebar.

Ito mengaku telah lama mengikuti perkembangan Woko Channel. Selain itu, latar belakangnya yang lahir di Ponorogo dan memiliki kemampuan berbahasa Jawa turut membantu membangun komunikasi dengan para pemain selama proses produksi.

“Saya pribadi melihat potensi dari Woko Channel ini sudah dari lama. Kebetulan saya juga bisa bahasa Jawa karena saya lahir di Ponorogo. Kemudian, suatu ketika saya melihat Woko Channel ini makin lama potensinya sangat besar. Terus kemudian production value-nya menjadi lebih menarik,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, komunikasi awal dengan Woko Channel dimulai pada awal 2025. Setelah melewati tahap pengembangan cerita dan berbagai persiapan, proses pengambilan gambar akhirnya dilaksanakan pada Oktober 2025.

Menurut Ito, proses mengarahkan para pemain berjalan cukup lancar. Hal tersebut karena mereka sudah terbiasa berakting melalui berbagai produksi konten Woko Channel.

Dalam penggarapannya, film ini tidak hanya menyuguhkan komedi khas para pemain, tetapi juga menghadirkan unsur drama dan supranatural. Di balik cerita yang menghibur, terdapat pesan moral tentang pentingnya mempersiapkan dan memperbaiki diri sebelum mengharapkan sesuatu.

“Ketika kita menginginkan sesuatu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat diri kita pantas untuk mendapatkan hal itu,” paparnya.

Dalam alur cerita, Mukidi dikisahkan tengah berusaha membuktikan keseriusannya untuk menikahi Bunga, tokoh yang diperankan Gabriella Desta. Salah satu upayanya adalah membeli rumah sendiri agar dinilai telah memiliki kehidupan yang mapan.

Namun, perjalanan yang direncanakan tidak berjalan sesuai harapan. Hubungan Mukidi dan Bunga justru berakhir, sementara rumah tua berharga murah yang dibelinya membawanya bertemu dengan Sukma, sosok perempuan misterius dari alam berbeda.

Bersama dua sahabatnya, Gendut yang diperankan Sutrisno Agung dan Penyok yang diperankan Eko Dunung, Mukidi kemudian menghadapi berbagai kejadian tak terduga yang menghadirkan kisah persahabatan, percintaan, hingga situasi penuh kekacauan.

Selain Heri Chandra, Dara Sarasvati, Sutrisno Agung, Eko Dunung, dan Gabriella Desta, film ini juga menghadirkan karakter Mbak Mintul serta Pak No.

Daya tarik film tersebut semakin lengkap dengan kehadiran empat lagu original soundtrack (OST) ciptaan Lek Dahlan. Keempat lagu itu berjudul Piye To Kih?, Sigaran Nyowo, Kelangan, dan Gemati.

Kehadiran film Piye To Kih? menjadi langkah bagi Woko Channel untuk membawa kreativitas yang selama ini berkembang melalui platform digital menuju layar lebar. Karya ini sekaligus menunjukkan bahwa kreator lokal memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam perkembangan industri perfilman Indonesia.

Film tersebut dijadwalkan mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 19 November 2026.

(Tim)

Pos terkait